Sab. Sep 26th, 2026
Tragedi Tsunami 2006 di Pangandaran Jawa Barat (Foto/cnbcindonesia)

EVAVPOS.com, Jakarta – Mekanisme tsunami Pangandaran 2006 diduga tidak semata-mata disebabkan oleh gempa bumi. Kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan indikasi bahwa pergerakan massa bawah laut kemungkinan turut memperkuat gelombang sekaligus mempercepat waktu tiba tsunami di pesisir.

Peneliti Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN, Wiko Setyonegoro, menyampaikan temuan tersebut dalam Webinar Deep-Sea Science Forum: Toward Deep Sea Mission 2045 pada 4 Agustus 2026.

Menurut Wiko, tsunami Pangandaran merupakan contoh tsunami earthquake, ketika gelombang yang terbentuk jauh lebih besar dibandingkan perkiraan berdasarkan parameter gempa yang tercatat. Sejumlah penelitian bahkan mencatat ketinggian gelombang di beberapa lokasi mencapai lebih dari 8 meter.

BRIN menguji 14 skenario dengan menggabungkan data batimetri, topografi, gempa historis, serta observasi lapangan. Hasilnya, model yang memadukan sumber gempa dan dugaan pergerakan massa bawah laut dinilai paling mendekati kondisi tsunami yang terjadi pada 2006.

Yang menjadi perhatian, simulasi menunjukkan perbedaan signifikan pada waktu tiba gelombang. Jika hanya memperhitungkan gempa, tsunami diperkirakan tiba sekitar 40–50 menit. Namun, ketika faktor pergerakan massa bawah laut dimasukkan, waktu tiba diperkirakan menjadi sekitar 20–30 menit.

Simulasi juga memperlihatkan tsunami dapat memasuki daratan melalui muara Sungai Serayu di Cilacap, sehingga memperluas wilayah yang berpotensi terdampak. Sebaliknya, pemodelan turut mengidentifikasi kawasan yang relatif aman dan dapat dipertimbangkan sebagai zona evakuasi.

Meski demikian, Wiko menegaskan dugaan keterlibatan pergerakan massa bawah laut masih membutuhkan penelitian lanjutan dan analisis sensitivitas untuk mendapatkan konfirmasi ilmiah yang lebih kuat.

BRIN berencana melanjutkan riset ocean hazard, termasuk mengembangkan teknologi pemantauan tsunami yang lebih terjangkau dan mampu memantau perubahan muka laut secara real time.

“Kami telah melakukan inisiasi bersama rekan-rekan dari bidang teknik untuk memproduksi alat monitoring tsunami yang lebih murah dan dapat diterapkan untuk mendukung pemantauan gelombang laut,” pungkas Wiko.

By KOYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *